*Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
Slogan: Gemah Ripah Loh Jinawi
|
|
Koordinat:
6°41′LU 108°33′BT
|
|
Negara
|
|
Provinsi
|
|
Luas 37.54 km2
(14.49 mil²)
|
|
Populasi (2010[1]) 298.224
|
|
Kepadatan
|
7,900/km2
(21,000/sq mi)
|
+62
231
|
|
Situs web
|
www.cirebonkota.go.id
|
Kota Cirebon adalah salah satu kota
yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir
utara Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya.
Daftar
isi
- 1 Geografi
- 1.1 Iklim
- 2 Etimologi
- 3 Sejarah
- 4 Pemerintahan
- 4.1 Wali kota
- 4.1.1 Jaman Belanda
- 4.1.2 Jaman Jepang
- 4.1.3 Jaman Awal Kemerdekaan
- 4.1.4 Jaman Indonesia
- 5 Penduduk
- 6 Perhubungan
- 7 Pengangkutan dan Komunikasi
- 8 Perekonomian
- 9 Keuangan dan Harga
- 10 Pelayanan umum
- 10.1 Listrik
- 10.2 Air Minum
- 11 Kesehatan
- 12 Pendidikan
- 13 Pariwisata
- 14 Seni dan budaya
- 15 Pers dan media
- 16 Putera Daerah
- 17 Referensi
Geografi
Kota Cirebon terletak
pada 6°41′LU 108°33′BT pantai Utara Pulau Jawa, bagian timur Jawa Barat, memanjang dari barat ke timur 8 kilometer, Utara
ke Selatan 11 kilometer dengan ketinggian dari permukaan laut 5 meter (termasuk
dataran rendah). Kota Cirebon dapat ditempuh melalui jalan
darat sejauh 130 km dari arah Kota Bandung dan 258 km dari arah Kota Jakarta.
Kota Cirebon terletak
pada lokasi yang strategis dan menjadi simpul pergerakan transportasi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Letaknya yang berada di wilayah pantai menjadikan
Kota Cirebon memiliki wilayah dataran yang lebih luas dibandingkan dengan
wilayah perbukitannya. Luas Kota Cirebon adalah 37,54 km2 dengan dominasi
penggunaan lahan untuk perumahan (32%) dan tanah pertanian (38%).
Wilayah Kotamadya
Cirebon Sebelah Utara dibatasi Sungai Kedung
Pane, Sebelah Barat dibatasi Sungai Banjir Kanal, Kabupaten Cirebon, Sebelah Selatan dibatasi Sungai Kalijaga,
Sebelah Timur dibatasi Laut Jawa.
Sebagian besar wilayah
merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0-2000 dpl, sementara
kemiringan lereng antara 0-40 % dimana 0-3 % merupakan daerah
berkarateristik kota, 3-25 % daerah transmisi dan 25-40 % merupakan
pinggiran.
Kota ini dilalui oleh
beberapa sungai di antaranya Sungai Kedung
Pane, Sungai Sukalila,
Sungai Kesunean,
dan Sungai Kalijaga.
Iklim
Kota Cirebon termasuk daerah iklim tropis, Banyaknya curah hujan 1.351
mm per tahun dengan hari hujan 86 hari. Kelembaban udara berkisar antara ±
48-93% dengan kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Januari-Maret dan
angka terendah terjadi pada bulan Juni-Agustus.
Data iklim Kota cirebon
|
|||||||||||||
Bulan
|
Jan
|
Feb
|
Mar
|
Apr
|
Mei
|
Jun
|
Jul
|
Agt
|
Sep
|
Okt
|
Nov
|
Des
|
Tahun
|
Rata-rata tertinggi °C (°F)
|
33.5
(92.3) |
30.2
(86.4) |
30.4
(86.7) |
31.0
(87.8) |
30.2
(86.4) |
30.0
(86) |
31.2
(88.2) |
31.5
(88.7) |
25.2
(77.4) |
31.8
(89.2) |
30.8
(87.4) |
36.4
(97.5) |
31.02
(87.84) |
Rata-rata terendah °C (°F)
|
22.3
(72.1) |
20.1
(68.2) |
22.1
(71.8) |
22.2
(72) |
24.9
(76.8) |
25.0
(77) |
24.3
(75.7) |
25.2
(77.4) |
20.5
(68.9) |
25.6
(78.1) |
25.2
(77.4) |
24.7
(76.5) |
23.51
(74.32) |
Presipitasi mm (inci)
|
357
(14.06) |
354
(13.94) |
165
(6.5) |
101
(3.98) |
212
(8.35) |
139
(5.47) |
158
(6.22) |
61
(2.4) |
144
(5.67) |
134
(5.28) |
257
(10.12) |
298
(11.73) |
2.380
(93,7) |
Rata-rata
hari hujan
|
20
|
12
|
18
|
14
|
12
|
12
|
9
|
5
|
8
|
12
|
13
|
13
|
148
|
Sumber:
Kota Cirebon Dalam Angka 2010,Cuaca
|
Rata-rata curah hujan tahunan di kota Cirebon ± 2260
mm/tahun dengan jumlah hari hujan ± 155 hari. Berdasarkan klasifikasi iklim
Schmidt-Ferguson, iklim di kota Cirebon termasuk dalam tipe iklim C dengan
nilai Q ± 37,5% (persentase antara bulan kering dan bulan basah). Musin hujan
jatuh pada bulan Oktober-April, dan musim kemarau jatuh pada bulan
Juni-September.
Keadaan angin terdapat tiga macam angin :
- Angin Musim Barat : antara Desember sampai Maret
- Angin Pancaroba : antara April sampai Nopember
- Angin Musim Timur : antara Mei sampai Oktober
Etimologi
Cirebon dikenal dengan
nama Kota Udang[2] dan Kota Wali. Selain itu kota Cirebon
disebut juga sebagai Caruban Nagari (penanda gunung Ceremai)[3] dan Grage (Negeri Gede dalam bahasa jawa cirebon
berarti kerajaan yang luas).[4] Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam,
masyarakat Cirebon biasa menggunakan dua bahasa, bahasa Sunda dan Jawa.
Nama Cirebon berasal
dari kata Caruban,[5] dalam Bahasa sunda yang berarti campuran (karena budaya Cirebon
merupakan campuran dari budaya Sunda, Jawa,
Tionghoa, dan unsur-unsur budaya Arab)
atau bisa juga berasal dari kata Ci yang artinya air
atau sungai dan Rebon yang artinya udang
dalam Bahasa Sunda (karena udang merupakan salah satu hasil perikanan Kota Cirebon).
Sejarah
Balai Kota Cirebon (1927)
Menurut Manuskrip Purwaka
Caruban Nagari, pada abad 15 di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati.
Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan
penduduk setempat. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang
ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Pajajaran). Dan di pelabuhan ini juga terlihat aktivitas Islam
semakin berkembang. Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah
selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman
baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.
Pada Perkembangan
selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi.
Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti
kepada Raja Galuh. Oleh karena itu Raja Galuh mengirimkan bala tentara ke
Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon
terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang.
Dengan demikian
berdirilah kerajaan baru di Cirebon dengan Raja bergelar Cakrabuana.
Berdirinya kerajaan Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan
pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.[6]
kemudian pada tanggal 7 Januari 1681 Cirebon secara politik dan ekonomi berada
dalam pengawasan pihak VOC, setelah penguasa Cirebon waktu itu menanda tangani
perjanjian dengan VOC.[7]
Pada masa kolonial
pemerintah Hindia Belanda, tahun 1906
Cirebon disahkan menjadi Gemeente Cheribon dengan luas 1.100 ha dan
berpenduduk 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Kemudian
pada tahun 1942, Kota Cirebon diperluas menjadi 2.450 ha dan tahun 1957 status
pemerintahannya menjadi Kotapraja dengan luas 3.300 ha, setelah ditetapkan
menjadi Kotamadya tahun 1965 luas wilayahnya menjadi 3.600 ha.
Pada tanggal 15 April
2011, Kota Cirebon diguncang dengan bom bunuh diri. Lokasi pengeboman berada di masjid Mapolresta
Cirebon. Pada peristiwa tersebut, pelaku bom bunuh diri tewas seketika, dan
terdapat beberapa orang luka parah.[8]
Pemerintahan
Setelah berstatus
Gemeente Cirebon pada tahun 1906, kota ini baru dipimpin oleh seorang Burgermeester
(wali kota) pada tahun 1920 dengan wali kota pertamanya adalah J.H. Johan.
Kemudian dilanjutkan oleh R.A. Scotman pada tahun 1925. Pada tahun 1926
Gemeente Cirebon ditingkatkan statusnya oleh pemerintah Hindia-Belanda menjadi stadgemeente, dengan otonomi
yang lebih luas untuk mengatur pengembangan kotanya. Selanjutnya pada tahun
1928 dipilih J.M. van Oostrom Soede sebagai wali kota berikutnya.
Pada masa pendudukan
tentara Jepang ditunjuk Asikin Nataatmaja sebagai Shitjo (wali
kota) yang memerintah antara tahun 1942-1943. Kemudian dilanjutkan oleh Muhiran
Suria sampai tahun 1949, sebelum digantikan oleh Prinata Kusuma.
Setelah proklamasi
kemerdekaan Indonesia, pemerintah Kota Cirebon berusaha mengubah citra
Kota Cirebon yang telah terbentuk pada masa kolonial Belanda dengan simbol dan
identitas kota yang baru, berbeda dari sebelumnya. di mana kota ini dikenal dengan
semboyannya per aspera ad astra (dari duri onak dan lumpur menuju
bintang), kemudian diganti dengan motto yang digunakan saat ini. Pada tahun 2010
berdasarkan survei persepsi kota-kota di seluruh Indonesia oleh Transparency International
Indonesia (TII), kota ini termasuk kota terkorup di Indonesia
bersama dengan Kota Pekanbaru, hal ini
dilihat dari Indeks Persepsi Korupsi
Indonesia (IPK-Indonesia) 2010 yang merupakan pengukuran tingkat korupsi pemerintah daerah di Indonesia, kota ini sama-sama
mendapat nilai IPK sebesar 3.61, dengan rentang indeks 0 sampai 10, 0 berarti
dipersepsikan sangat korup, sedangkan 10 sangat bersih. Total responden yang
diwawancarai dalam survei yang dilakukan antara Mei dan Oktober 2010 adalah
9237 responden, yang terdiri dari para pelaku bisnis.[9][10]
Wilayah administrasi
Pemerintah Kota Cirebon berluas 37,358 km2, pada tahun 2008
terdiri dari 5 wilayah kecamatan, 22 kelurahan, 247 Rukun Warga (RW), dan 1.352
Rukun Tetangga (RT). Harjamukti merupakan
kecamatan terluas (47%), kemudian berturut-turut Kesambi (22%), Lemahwungkuk (17%), Kejaksan (10%) dan Pekalipan (4%).
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
yang bekerja di Pemerintahan Kota Cirebon mencapai 6.982 orang, dengan
komposisi pegawai laki-laki sebanyak 3.532 orang dan pegawai perempuan sebanya
3.450 orang. Tingkat pendidikan PNS di Pemerintahan Kota Cirebon yang terbanyak
adalah lulusan S1 dan SLTA, lulusan S1 mencapai 32,34 persen, sedangkan lulusan SLTA
mencapai 28,12 persen. Sementara itu lulusan D3 mencapai 22,23 persen, SLTP
sekitar 7,69 persen, D1/D3 sekitar 26,37 persen, dan S2 sekitar 1,85 persen,
dan masih ada lulusan SD yang bekerja yaitu mencapai 3,64 persen.
Sementara itu, anggota DPRD
Kota Cirebon pada tahun 2008 sebanyak 30 orang, yang terdiri 28 laki-laki dan 2
perempuan, dengan mayoritas tingkat pendidikan anggota DPRD adalah lulusan SLTA
sebesar 13 orang, kemudian terbanyak kedua lulusan S1 sebesar 10 orang, dan
lulusan S2 sebanyak 7 orang. Anggota DPRD tersebut terbagi kedalam 6 fraksi,
Anggota fraksi terbanyak adalah Fraksi PDIP
dan Fraksi Golkar, yang masing-masing sebesar 26,7 persen , sedangkan
untuk fraksi lainnya, seperti Fraksi PAN mencapai 13,3 persen, PKB
sekitar 13,3 persen, Fraksi PKS sekitar 10,0 persen dan Fraksi Partai Demokrat sebesar 10,0 persen.[11]
Wali kota
Berikut adalah daftar
wali kota Cirebon sejak tahun 1920:
Jaman
Belanda
Bergelar Burger
Meester
- J.H. Johan (1920-1925)
- Roelof Adriaan Sc Hotman (1925-1928)
- Jan Marie van Gostrom Slede (1928-1933)
- Mr. H.E. Boissevain (1935)
- Mr. Carl Erich Eberhard Kuntze (1936-1938)
- H. Scheffer (1939-1942)
Jaman Jepang
Bergelar SHITO
- Asikin Nataatmadja (1942-1943)
- Moeniran Soerianegara (1943-1949)
Jaman Awal Kemerdekaan
Bernama Wakil Kota
- Prinata Koesoema (1949-1950)
- Moestafa Soerjadi (1950-1954)
Jaman Indonesia
Bernama Wali Kota/Walikota
- Hardian Kartaatmadja (1954-1957)
- Prawira Amidjaja (1957-1959)
- Moh. Safei (1959-1960)
- RSA. Prabowo (1960-1965)
- R. Sukardi (1965-1966)
- Tatang Suwardi (1966-1974)
- H. Aboeng Koesman (1974-1981)
- Drs. H. Achmad Endang (1981-1983)
- Drs. Moh. Dasawarsa (1983-1988)
- Drs. H. Kumaedhi Syafrudin (1988-1993)
- Drs. H. Kumaedhi Syafrudin (1993-1998)
- Drs. H. Lasmana Suriaatmadja (1998-2003)
- Subardi, S.Pd. (2003-2013)
- Drs. H. Ano Sutrisno, M.M. (2013-2018)
Penduduk
Menurut hasil Suseda Jawa Barat Tahun 2010 jumlah penduduk Kota Cirebon telah
mencapai jumlah 298 ribu jiwa. Dengan komposisi penduduk laki-laki sekitar 145
ribu jiwa dan perempuan sekitar 153 ribu jiwa, dan ratio jenis kelamin sekitar
94,85
Penduduk Kota Cirebon
tersebar di lima kecamatan, kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk
tertinggi adalah Kecamatan Pekalipan
sebesar 21,5 ribu jiwa/km², terpadat kedua adalah Kecamatan
Kejaksan 11,8 ribu jiwa/km², kemudian Kecamatan Kesambi 8,8 ribu jiwa/km², Kecamatan Lemahwungkuk
8,45 ribu jiwa/km², dan kepadatan terendah terdapat di Kecamatan Harjamukti hampir
5,48 ribu jiwa/km².
Perhubungan
Penumpang Kereta api Cirebon Ekspres
di stasiun Cirebon.
Kota Cirebon terletak di
wilayah strategis, yakni titik bertemunya jalur tiga kota besar di Indonesia
yakni Jakarta, Bandung, dan Semarang. Semua jenis transportasi itu baik transportasi
darat, laut, dan udara saling berintegrasi mendukung pembangunan di kota
Cirebon.
Kota Cirebon memiliki
dua stasiun kereta api, yakni Stasiun Kejaksan dan Stasiun Prujakan. Stasiun Kejaksan
berarsitektur khas kolonial Belanda, stasiun ini melayani hampir semua tujuan
kota - kota lainnya baik itu kota besar maupun kota kecil di pulau Jawa.
Terminal angkutan darat di Kota Cirebon di antaranya terminal besar Harjamukti,
letaknya di jalan By Pass Kota Cirebon.
Pelabuhan Cirebon saat ini hanya digunakan untuk pengangkutan
batu bara dan kebutuhan pokok dari pulau-pulau lain di Indonesia. Bandar Udara
Cakrabuana merupakan bandar udara di Kota Cirebon saat ini hanya dijadikan
sebagai bandara khusus militer.
Di kota ini masih
terdapat Becak khas Cirebon sebagai sarana transportasi rakyat
sekaligus sarana untuk wisata keliling kota.
Pengangkutan
dan Komunikasi
Menurut catatan Dinas
Kimpraswil Kota Cirebon, panjang jalan di Kota Cirebon pada tahun 2009,
tercatat panjangnya mencapai 166,686 km. Dari panjang jalan tersebut, sebagian
besar (99%) merupakan jalan yang sudah diaspal yaitu sepanjang 165,217 km; dan
sepanjang 1,448 km (1%) merupakan jalan berkerikil. Dilihat dari kondisi jalan,
sepanjang 161,439 km kondisinya baik, dan sekitar 4,141km kondisi sedang, serta
sebanyak 1,08 km kondisinya rusak, baik rusak berat maupun ringan.
Jumlah sepeda motor, mobil penumpang, dan mobil barang cenderung
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2006 jumlah sepeda motor
tercatat sebanyak 80.714 buah dan pada tahun 2008 jumlahnya meningkat menjadi 109.961
buah.
Kegiatan di pelabuhan laut Cirebon sepanjang tahun 2006-2009 mengalami
penurunan dari 1.809 kapal yang berlabuh pada tahun 2006 menjadi 1.630 kapal
yang berlabuh pada tahun 2009. Dari sejumlah kapal tersebut 40 kapal merupakan
jenis pelayaran luar negeri, sebanyak 1.488 kapal merupakan jenis kapal
pelayaran dalam negeri, 132 kapal merupakan pelayaran rakyat. Arus barang
berdasarkan perdagangan di pelabuhan Cirebon di dominasi oleh bongkar muatan
antar pulau.
lalu lintas penerbangan
melalui Bandara Penggung Cirebon
mengalami peningkatan dari sebanyak 899 pesawat pada tahun 2009 menjadi 1.110
pesawat pada tahun 2010. Pada tahun 2010 juga terjadi peningkatan volume
keberangkatan pesawat, karena pada 2010 terdapat 1.117 pesawat yang berangkat
dari bandara Penggung.
Penumpang yang diangkut
melalui stasiun kereta Cirebon pada tahun 2009 telah mencapai 683.912
orang. Bulan Juni merupakan jumlah penumpang kereta api terbanyak yaitu
mencapai 70.145 orang, sedangkan yang terendah terjadi di bulan Februari yang
mencapai 40.914 orang.
Data pengiriman surat
dalam negeri melalui kantor pos. Tercatat pengiriman surat dalam negeri
tahun 2009 tercatat sebanyak 541.912 surat. Untuk jenis pengiriman surat yang
terbanyak masih pengiriman surat biasa, kemudian pengiriman surat kilat khusus
dan pengiriman surat kilat.[12]
Perekonomian
Gedung Bank Indonesia, salah satu bangunan peninggalan Belanda di Cirebon
Perekonomi Kota Cirebon
dipengaruhi oleh letak geografis yang strategis dan karakteristik sumber daya alam sehingga struktur perekonomiannya didominasi
oleh sektor industri
pengolahan, sektor perdagangan, hotel
dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa.
Tomé Pires dalam Suma Orientalnya sekitar tahun 1513 menyebutkan Cirebon
merupakan salah satu sentra perdagangan di Pulau Jawa. Setelah Cirebon diambil alih oleh pemerintah Hindia-Belanda, pada tahun 1859, pelabuhan Cirebon ditetapkan
sebagai transit barang ekspor-impor dan pusat pengendalian politik untuk
kawasan di pedalaman Jawa.
Sampai tahun 2001
kontribusi perekonomian
untuk Kota Cirebon adalah industri pengolahan (41,32%), kemudian diikuti oleh
sektor perdagangan, hotel dan restoran (29,8%), sektor pengangkutan dan
komunikasi (13,56%), sektor jasa-jasa (6,06%). Sedangkan sektor lainnya (9,26%)
meliputi sektor pertambangan, pertanian, bangunan, listrik, dan gas rata-rata
2-3%.
Salah satu wujud usaha
di sektor informal adalah pedagang kaki lima, Kota
Cirebon yang sering menjadi sasaran urbanisasi memiliki jumlah PKL yang cukup signifikan pada
setiap tahunnya. Fenomena ini di satu sisi menggembirakan karena menunjukan
dinamika ekonomi akar rumput, tapi di sisi lain jika tidak dikelola dengan baik
akan menimbulkan persoalan yang serius di sektor ketertiban dan tata ruang.
Perusahaan rokok
multinasional, British American Tobacco
(BAT), merupakan salah satu produsen rokok yang pernah berdiri di Kota Cirebon.
Namun pada tahun 2010, guna mengefisiensikan produksinya, merelokasi pabrik di
Kota Cirebon ke Kota Malang.
Kota Cirebon memiliki 12
kompleks ruko, 13 bangunan plaza dan mall serta 12 pasar tradisional.
Kota Cirebon memiliki
beberapa pusat perbelanjaan di antaranya Cirebon Mall
daerah Kota Tua (BAT) di Jalan Syarief Abdurahman, CSB Mall (Cirebon Super Block) berlokasi di pusat Kota Cirebon
Jalan DR. Cipto Mangunkusumo dengan luas 6.2 ha, Grage Mall bertempat di Jalan Tentara Pelajar, Giant Hypermarket
terletak di sekitar area Stadion Bima Jalan Brigjen Dharsono (By-Pass), dan di
sekitar Jalan Rajawali, Plaza Yogya
Siliwangi di Jalan Siliwangi, Plaza Yogya Grand Center di Jalan Karanggetas, Pusat Grosir
Cirebon (PGC), Asia Plaza,
Surya Plaza,
Carrefour
SuperStore Jl. Cipto, Gunung Sari Trade Center
(GTC), Balong Indah
Plaza dan Plaza Index "Ace Hardware".[13]
Pada triwulan I 2010,
Kota Cirebon mengalami laju inflasi tertinggi dibandingkan dengan kota lainnya
di Jawa Barat. Faktor pendorong kenaikan laju inflasi terutama
berasal dari kelompok transpor, komunikasi dan jasa, keuangan serta pendidikan,
Pariwisata, dan olahraga.
Kelompok
|
Triwulan II 2009
|
Triwulan III 2009
|
Triwulan IV 2009
|
Triwulan I 2010
|
|
Bahan makanan
|
1.84
|
3.72
|
4.68
|
3.58
|
|
Makanan jadi
|
7.67
|
6.55
|
5.99
|
5.30
|
|
Perumahan
|
9.17
|
4.11
|
3.64
|
2.31
|
|
Sandang
|
6.45
|
8.41
|
10.77
|
2.00
|
|
Kesehatan
|
6.85
|
6.68
|
5.48
|
2.53
|
|
Pendidikan
|
25.06
|
7.96
|
8.15
|
7.01
|
|
Transporstasi
|
-6.67
|
-5.50
|
-2.95
|
2.29
|
|
Total
|
5.23
|
3.67
|
4.11
|
3.54
|
|
Inflasi
Tahunan Kota Cirebon Menurut Kelompok Barang dan Jasa
Sumber:[14] |
Kelompok transpor Kota
Cirebon mengalami laju inflasi yang cukup tinggi karena kenaikan harga BBM
nonsubsidi serta tarif jasa keuangan. Sementara itu, tarif kursus/pelatihan di
Kota Cirebon relatif tinggi dibandingkan dengan kota-kota lainnya, sehingga
mendorong tingginya inflasi kelompok pendidikan.
Keuangan dan Harga
Pada tahun anggaran 2007
penerimaan mencapai 510,2 miliar rupiah, sementara itu pada tahun anggaran 2010
meningkat menjadi 758,7 miliar rupiah.
Pos penerimaan terbesar
masih diperoleh dari bagian Dana Perimbangan yaitu sebesar 489,3 miliar rupiah
atau sekitar 64,5 persen dari seluruh penerimaan daerah, penerimaan terbesar
kedua berasal dari Bagian Pendapatan
Asli Daerah yaitu sebesar 115,2 miliar rupiah atau sebesar 15,2
persen dari seluruh penerimaan daerah.
Besarnya Dana
Perimbangan ini, terutama merupakan kontribusi dari dana alokasi umum (DAU)
kepada pemerintah daerah Kota Cirebon yang pada tahun
2010 jumlahnya mencapai
412 miliar rupiah atau sebesar 84,2 persen dari total penerimaan. Pada tahun
anggaran 2010 ini untuk realisasi belanja tidak langsung dan belanja langsung,
tercatat belanja tidak langsung langsung sebesar 419,4 miliar rupiah dan
belanja langsung sebesar 350,7 miliar rupiah. Dari sejumlah belanja tidak
langsung, yang menggunakan keuangan terbesar adalah untuk pos belanja pegawai
yaitu sebesar 347 miliar rupiah. Sementara itu untuk belanja langsung, pos
terbesar adalah untuk belanja barang dan jasa yaitu sebesar 118,2 miliar.
Jumlah Koperasi di kota Cirebon tahun 2010 sebanyak 244 buah koperasi
dengan anggota aktif sebanyak 29.089 orang. Angka tersebut menurun dari tahun
sebelumnya yang tercatat sebanyak 271 buah koperasi.[15]
Pelayanan
umum
Listrik
Listrik selain untuk menunjang kegiatan ekonomi seperti
industri, juga untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dengan cara membuat
kemudahan penduduk beraktifitas.
Dari data kelistrikan
yang disajikan, tercatat jumlah pelanggan pengguna listrik mencapai pelanggan
pada tahun 2010, dengan rincian sekitar 89,04 persen adalah pelanggan rumah
tangga (R) dan 7,73 persen pelanggan bisnis (B), pelanggan golongan tarif
sosial (S) sekitar 2,05 persen. Pelanggan industri hanya 0,16 persen. Daya
terpasang pada tahun 2008 ini sebesar 133.655.500 KVA.[16]
Air
Minum
Penyedian sumber air
minum sangat penting untuk sebuah kota seperti Kota Cirebon yang merupakan sebagian
wilayahnya berbatasan dengan pantai, yang cenderung sebagian besar sumber
airnya tidak layak untuk air minum. Oleh karena itu, ketersedian air oleh PDAM
menjadi sangat penting.
Produksi air oleh PDAM
Kota Cirebon, dalam kurun 2006- 2009 jumlah produksi air minum cenderung
berfluktuasi, pada tahun 2006 produksi air mencapai 23.425.965 m3,
kemudian menjadi 26.245.072 m3 (2007) dan turun pada tahun 2008 menjadi
25.432.691 m3, dan naik kembali menjadi 25.455.687 m3 pada tahun 2008.
Untuk air yang disalurkan pada tahun 2009 mencapai 18.682.035 m3. Dengan
rincian, air minum yang disalurkan pada rumahtangga sebesar 13.554.294
m3 ; hotel, obyek wisata dan industri sebesar 2.552.822 m3 ; Badan
Sosial/Rumah Sakit sebesar 733.357 m3 .
Nilai penjualan air
minum pada tahun 2009 mencapai 27.994 juta rupiah, turun sebesar 2,07 persen
dibandingkan dengan tahun 2008. Nilai penjualan terbesar dihasilkan dari
penjualan kepada golongan pelanggan rumahtangga dengan nilai sebesar 17.793
juta rupiah atau 63,56 persen dari total penjualan.[17]
Hampir 93 %
penduduknya telah terlayani oleh layanan air bersih dari PDAM Cirebon,
mayoritas pelanggan air bersih di kota ini adalah rumah tangga (90,37% atau
sebanyak 59.006) dari jumlah total sambungan yang ada (65.287).[18]
Kesehatan
Sejak pemerintah Hindia-Belanda, Kota Cirebon telah memiliki rumah sakit yang bernama Oranje, yang diresmikan
penggunaannya pada 31 Agustus 1921
dan mulai beroperasi sejak tanggal 1 September 1921.
Pada tahun 2009 di Kota
Cirebon telah tersedia sekitar 6 rumah sakit umum, 4 rumah sakit bersalin, 21 Puskesmas, 15 Puskemas Pembantu, 20 Puskesmas Keliling, serta
85 Apotik, dan 31 Toko Obat. Dengan jumlah tenaga medis seperti
dokter spesialist sekitar 94 orang, dan 118 dokter umum, 45 dokter gigi, 847
perawat, serta 278 bidan. [19]
Pendidikan
- Institut Studi Islam Fahmina (ISIF)
- Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC)
- Universitas Swadaya Gunung Jati
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cirebon
- Cirebon Institute of Computer (CIC)
- IAIN Syekh Nurjati Cirebon
- Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon (UNTAG)
- STMIK IKMI Cirebon
- STIKOM Poltek Cirebon
- Universitas Muhammadiyah Cirebon
- STMIK Catur Insan Cendekia Cirebon
- Akademi Perdagangan Catur Insan Cendekia Cirebon
- Stikes Mahardika Cirebon (STIKma)
- Akademi Keperawatan (akper) Dharma Husada cirebon
- Akademi Kebidanan (akbid) Isma Husada cirebon
- WIT Institute Cirebon
- Akademic Maritime Of Cirebon
- LP3I Business College
- Telkom PDC
- Politeknik Kesehatan Negeri Tasikmalaya Cirebon
SMK negeri dan
swasta
|
||||||
Jumlah
satuan
|
160
|
52
|
58
|
19
|
14
|
|
Data sekolah di Kota Cirebon
Sumber:[20][21] |
Pariwisata
Sebagai salah satu
tujuan wisata di Jawa Barat, Kota Cirebon menawarkan banyak
pesona mulai dari wisata sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam,
kisah para wali, Komplek Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung sekitar 15 km ke
arah barat pusat kota, Masjid Agung Sang Cipta Rasa,
Masjid At Taqwa, kelenteng kuno, dan bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda. Kota ini juga menyediakan bermacam kuliner khas
Cirebon, dan terdapat sentra kerajinan rotan
serta batik.
Cirebon terdapat keraton sekaligus di dalam kota, yakni Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Ciri khas bangunan keraton selalu menghadap ke utara
dan ada sebuah masjid didekatnya. Setiap keraton mempunyai alun-alun sebagai tempat berkumpul, pasar
dan patung macan di taman
atau halaman depan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya kerajaan Cirebon. Ciri lain adalah piring
porselen asli Tiongkok yang jadi penghias dinding. Beberapa piring konon diperoleh dari Eropa
saat Cirebon jadi pelabuhan pusat perdagangan Pulau Jawa.
Kota Cirebon memiliki
beberapa kawasan taman di antaranya Taman Air Sunyaragi dan Taman Ade Irma Suryani.
Taman Air Sunyaragi memiliki teknologi pengaliran air
yang canggih pada masanya, air mengalir di antara teras-teras tempat para putri
raja
bersolek, halaman rumput hijau tempat para ksatria berlatih, ditambah menara
dan kamar istimewa yang pintunya
terbuat dari tirai air. Sementara beberapa masakan khas kota ini sebagai
bagian dari wisata kuliner antara lain: Sega Jamblang, Sega lengko, Empal gentong, Docang, Tahu gejrot, Kerupuk Melarat, Mendoan, Sate beber,
Mi koclok, Empal asem, Nasi goreng Cirebon, Ketoprak Cirebon, Bubur ayam
Cirebon, Kerupuk Udang dan sebagainya.
Seni dan budaya
Kebudayaan yang melekat
pada masyarakat Kota Cirebon merupakan perpaduan berbagai budaya yang datang
dan membentuk ciri khas tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari beberapa
pertunjukan khas masyarakat Cirebon antara lain Tarling, Tari Topeng Cirebon, Sintren, Kesenian Gembyung dan Sandiwara
Cirebonan.
Kota ini juga memiliki beberapa
kerajinan tangan di antaranya Topeng Cirebon, Lukisan Kaca,
Bunga Rotan
dan Batik.
Salah satu ciri khas batik
asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif Mega Mendung,
yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk
bingkai pada gambar utama.
Motif Mega Mendung
adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana
(1452-1479), yang hingga kini masih kerap digunakan. Motif tersebut didapat
dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon. Karena pada awalnya, seni batik
Cirebon hanya dikenal di kalangan keraton. Sekarang dicirebon, batik motif mega
mendung telah banyak digunakan berbagai kalangan. Selain itu terdapat juga
motif-motif batik yang disesuaikan dengan ciri khas penduduk pesisir.[22]
Pers dan media
Kota
Cirebon sejak pemerintah Hindia-Belanda telah menjadi pusat
penerbitan beberapa surat kabar, di antaranya Kepentingan Ra’jat, Poesaka
Tjirebon, Koemandang Masjarakat. Setelah kemerdekaan Indonesia
muncul Repoeblik. Saat ini beberapa surat kabar yang masih terbit
diantaranya : Radar Cirebon dan Kabar Cirebon.[23]
Seluruh media televisi
nasional saat ini telah disiarkan di Cirebon. Selain itu terdapat beberapa
stasiun televisi lokal seperti CIREBON TV,
Radar
Cirebon Televisi (RCTV) dan DAIRI TV.
Kota Cirebon memiliki 16 stasiun radio, di antaranya:
- DAIRI 87.6 FM
- G-Radio FM 99,6
- Ci Radio FM 90.2
- Radio Simpati FM 88.3
- Kita FM 105.6
- Prima Sonata FM
- Radio Assunnah FM 92.3
- DB Radio 90,8
- PilaRADIO 88,6
- RRI Pro 2 FM 97,5
- Nuansa FM 104,2
- Gita Suara FM 99,1
- Swara Mulya Afrindo Rekatama FM 95,9
- Cirebon FM 89,20
- Ramanda 92,9 FM
- Sindang Kasih 103,6 FM
Putera Daerah
- Affandi
- Hasan Alwi
- Irish Bella
- Pitrajaya Burnama
- Rokhmin Dahuri
- Chitra Dewi
- Willem Anton Engelbrecht
- Victor Aristide Honig van den Bossche
- Saira Jihan
- Mohamad Kusnaeni
- Olaf J. de Landell
- Dirk Theodoor Uden Masman
- Yogie Suardi Memet
- Ronald Anton Meyer
- Djoko Munandar
- Arifin C. Noer
- Cecep Reza
- Norbertus Riantiarno
- Willem Nicolaas Rose
- Hans Stam
- Kaboel Suadi
- Peggy Melati Sukma
- Alam Surawidjaja
- Catherine Surya
- Ricky Karanda Suwardi
- Jos Verdier
- Hans Vernes
- Nani Widjaja
- Nining Indra Shaleh
- Candra Wijaya
- Rendra Wijaya
- Dewi Yull
- Helmy Faishal Zaini
- Muhammad Zuhal
Referensi
1. www.citypopulation.de Cities &
Municipalities (diakses pada 16 April 2011)
2. Eliot, Joshua; Capaldi, L.,
Bickersteth, J., (2001). Indonesia handbook (ed. 3). Footprint Travel
Guides. ISBN 1-900949-51-2.
3. dikti.go.id/ Observasi di Kota Cirebon
4. www.gragecirebon.wordpress.com
Sejarah Cirebon
5. Pangeran Arya Carbon
(1978). Purwaka Caruban nagari: (asal mula berdirinya negara Cerbon).
Penyalur Tunggal Pustaka Nasional Sudiam.
6. www.cirebonkota.go.id Profil Sejarah Pemerintahan
7. Universitas Indonesia, Wacana:
jurnal ilmu pengetahuan budaya, Yayasan Obor Indonesia, ISSN 1411-2272
8. www.detiknews.com Bom Pertama di Cirebon (diakses pada 16 April 2011)
9. nasional.kompas.com Pekanbaru dan Cirebon, Kota Terkorup (diakses pada 9 November
2010)
10. www.ti.or.id Konferensi Pers: Peluncuran Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2010
(diakses pada 9 November 2010)
11. Cirebon Dalam Angka 2011.
Katalog BPS: 1102001.3274
12. www.cirebonkota.go.id Pengangkutan dan komunikasi
13. Daftar pusat perbelanjaan Kota Cirebon
14. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Barat Triwulan I-2010
15. Cirebon Dalam Angka 2011.
Katalog BPS: 1102001.3274
16. www.cirebonkota.go.id industri, listrik, gas dan air minum
17. www.cirebonkota.go.id industri listrik gas dan air minum
18. ciptakarya.pu.go.id Profil Kota Cirebon (diakses pada 16 April 2011)
19. data kesehatan Kota Cirebon (diakses pada 30 mei 2011)
20. www.cirebonkota.go.id Pendidikan Kota Cirebon (diakses pada 16 Mei 2011)
21. Daftar Sekolah Menengah Atas Kota Cirebon (diakses pada 20 mei
2011)
22. Motif Batik Cirebon
23. kabar-cirebon.com/ Kabar Cirebon